Visi dan Misi

VISI :
Menjadikan Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Psikologi Universitas Gunadarma terdepan dalam menciptakan mahasiswa Psikologi yang kreatif dan inovatif

MISI :
*Membangun lebih luas jaringan sosial baik antara sesama civitas akademik Psikologi Gunadarma dengan civitas psikologi lainnya.
*Menciptakan mental mahasiswa Psikologi Gunadarma yang kreatif dan mandiri dalam berkegiatan untuk mencari pengalaman.
*Berttanggung jawab dalam melaksanakan tugasnya sebagai mahasiswa
*Empati dan Simpatik terhadap maslah yang dihadapi
*Kolaboratif dalam problem solving

Rabu, 12 Januari 2011

Rasa Syukur


Suatu hari, ayah dari suatu keluarga yang sangat sejahtera membawa anaknya bepergian ke suatu negara yang sebagian besar penduduknya hidup dari hasil pertanian, dengan maksud untuk menunjukkan bagaimana kehidupan orang-orang yang miskin.

Mereka menghabiskan waktu berhari-hari di sebuah tanah pertanian milik keluarga yang terlihat sangat miskin. Sepulang dari perjalanan tersebut, sang ayah bertanya kepada anaknya, "Bagaimana perjalanan tadi?" "Sungguh luar biasa, Pa," tukas si anak. "Kamu lihat kan bagaimana kehidupan mereka yang miskin?" tanya sang ayah. "Iya, Pa," jawabnya. "Jadi, apa yang dapat kamu pelajari dari perjalanan ini?" tanya ayahnya lagi.

Si anak menjawab, "Saya melihat kenyataan bahwa kita mempunyai seekor anjing sedangkan mereka memiliki empat ekor. Kita punya sebuah kolam yang panjangnya hanya sampai ke tengah-tengah taman, sedangkan mereka memiliki sungai kecil yang tak terhingga panjangnya. Kita memasang lampu taman yang dibeli dari luar negeri dan mereka memiliki bintang-bintang di langit untuk menerangi taman mereka.

Beranda rumah kita begitu lebar mencapai halaman depan dan milik mereka seluas horison. Kita tinggal dan hidup di tanah yang sempit sedangkan mereka mempunyai tanah sejauh mata memandang. Kita memiliki pelayan yang melayani setiap kebutuhan kita tetapi mereka melayani diri mereka sendiri.

Kita membeli makanan yang akan kita makan, tetapi mereka menanam sendiri. Kita mempunyai dinding indah yang melindungi diri kita dan mereka memiliki teman-teman untuk menjaga kehidupan mereka." Dengan cerita tersebut, sang ayah tidak dapat berkata apa-apa. Kemudian si anak menambahkan, "Terima kasih, Pa, akhirnya aku tahu betapa miskinnya diri kita."


Terlalu sering kita melupakan apa yang kita miliki dan hanya berkonsentrasi terhadap apa yang tidak kita miliki. Kadang kekurangan yang dimiliki seseorang merupakan anugerah bagi orang lain. Semua berdasar pada perspektif setiap pribadi. Pikirkanlah apa yang akan terjadi jika kita semua bersyukur kepada Tuhan atas anugerah yang telah disediakan oleh-Nya bagi kita daripada kuatir untuk meminta lebih lagi.

Asa & Cita


Kita tidak pernah mempertanyakan ke mana supir bus kota yang kita tumpangi akan membawa busnya. Tetapi kita sering mempertanyakan Tuhan, kemana Dia akan membawa hidup kita.
"Seorang ayah mengajak puterinya, Asa 6 tahun, mengendarai mobil menuju ke sebuah museum. Sudah lama Asa menginginkannya. Si Ayah kebetulan hari itu mengambil cuti dan sengaja mengantar anaknya ke tempat yang sudah lama diimpikan Asa itu tanpa didampingi Bunda.

Di perjalanan, tak hentinya Asa bertanya kepada si Ayah:

"Ayah tahu tempatnya?", tanya Asa yangduduk di samping kemudi Ayah.

"Tahu, jangan kuatir ...", jawab Ayah sembari tersenyum.

"Emang Ayah tahu jalan-jalannya?"

"Tahu, jangan kuatir ..."

"Benar, tidak kesasar Ayah?"

"Benar, jangan kuatir ...", jawab Ayah tetap dengan sabar.

"Nanti kalau Asa haus, bagaimana?"

"Tenang, nanti Ayah beli air mineral ..."

"Terus kalau lapar?"

"Tenang, Ayah ajak mampir Asa kerestoran ..."

"Emang ayah tahu tempat restorannya?"

"Tahu, sayang."

"Emang ayah bawa cukup uang?"

"Cukup, sayang ..."

"Kalau Asa pengin ke kamar kecil?"

"Ayah antar sampai depan pintu toilet wanita ..."

"Emang di musium ada toiletnya?"

"Ada, jangan kuatir ..."

"Ayah bawa tissue juga?"

"Bawa, jangan kuatir ...", kata ayah sembari membelokkan mobilnya masuk jalan tikus, karena macet.

"Kok Ayah belok ke jalan jelek dan sempit begini?"

"Ayah cari jalan yang lebih cepat, supaya Asa bisa menikmati museum lebih lama nanti."

Tidak berapa lama, Asa kemudian tidak bertanya-tanya lagi. Giliran sang Ayah yang bingung, "Kenapa Asa diam, sayang?"

"Ya, Asa percaya Ayah deh! Ayah pasti tahu, akan antar dan bantu Asa nanti!"

Kita ini seperti Asa si anak kecil ini. Kita bertanya banyak hal mengenai apa yang kita hadapi dan terjadi dalam hidup kita. Terlalu banyak khawatir apa yang akan kita hadapi. Padahal sesungguhnya Tuhan "sedang mengemudi" buat kita semua. Kadang Ia membawa ke "gang sempit" yang barangkali tidak enak, tetapi itu semua untuk menghindari "kemacetan" di jalan yang lain. Kadang Ia memperlambat "kendaraan-Nya", kadang mempercepat. Semuanya ada maksudnya.

Ada baiknya kalau kita menyerahkan hal-hal yang di luar jangkauan kita kepada-Nya. Biarkan Dia berkarya atas hidup Anda, biarkan Dia mengemudikan hidup Anda, sebaliknya fokuskan hidup Anda kepada hal-hal yang Anda bisa kerjakan didepan mata, dengan berkat kemampuan yang Anda sudah miliki.

kuliah umum


Mengawali dari pikiran yang positif dan diskusi yang penuh pikiran secara postif itulah yang membuat terlaksananya kuliah umum ini dengan tema psikologi positif.

hal tersebut menjadi sebuah harapan dapat menjadi rema untuk kelanjutan program lainnya yang sedang menunggu. pelajaran yang dipetik dalam hal ini adalah tentang bagaimana kami untuk tetap berfikir positif sehingga semua tindakan dapat berdampak positif dalam kehidupan sehari hari.

Senin, 10 Januari 2011

Yin dan Yan



Di sebuah negeri ada seorang Raja yang punya Perdana Menteri yang sangat optimis. Setiap kali Raja merasa jengkel, selalu saja Perdana Menteri mampu menemukan sisi positif dari tiap situasi.

Suatu hari, mereka berdua berjalan melintasi hutan lebat. Di tengah jalan, Raja beristirahat sambil membelah buah kelapa sebagai pelepas dahaga. Sedang enak-enaknya makan buah kelapa, tanpa sengaja Sang Raja menggigit batok kelapa yang keras hingga giginya terlepas. Ia menjerit kesakitan. Mendengar keluhan Raja, Perdana Menteri malah tersenyum sambil berteriak, "Wow, itu bagus ... !"

"Kenapa kamu berkata seperti itu ?" tanya Raja keheranan.

"Ya, karena itu ada pertanda keberuntungan untuk Baginda."

Mendengar jawaban ini, Raja menjadi marah. Bagaimana mungkin penderitaan Raja dianggap lucu oleh Perdana Menterinya ?

"Baginda, mohon dengarkan saya," desak Perdana Menteri, "dibalik setiap kejadian yang tidak mengenakkan selalu terdapat sisi baik yang tidak kita lihat."

"Cukup! Ini sudah keterlaluan!" seru Sang Raja. Ia menangkap dan mengikat Perdana Menteri. Dimasukkan ke dalam sumur kering. Sang Raja akan menjemputnya nanti sepulang dari perjalanannya.

Sang Raja melanjutkan perjalanannya. Setelah berjalan cukup jauh, ia dihadang sekelompok suku liar yang sedang mencari orang untuk dikurbankan pada Dewa Gunung. Begitu tahu bahwa yang ditangkap adalah seorang Raja, mereka sangat senang. Dibawanya Raja untuk dikorbankan sebagai korban sajian. Sang Raja dirias dengan pakaian kurban yang indah.

Ketika algojo siap memenggal lehernya, pemimpin upacara berteriak menghentikan upacara itu. Ia melihat ada satu gigi Sang Raja yang telah tanggal.

"Kami tidak bisa menggunakan engkau sebagai kurban karena Dewa Gunung hanya berkenan menerima kurban yang tubuhnya lengkap. Kamu boleh pergi sekarang!"

Sang Raja sangat bersyukur. Ia lari cepat-cepat meninggalkan suku liar itu. Tiba-tiba ia teringat apa yang dikatakan oleh Perdana Menterinya: "Ada sisi keberuntungan dari sesuatu yang dianggapnya sebagai kesialan."

Bergegas ia menjenguk Perdana Menterinya yang masih tertinggal di dalam sumur kering. Ketika melongok ke dalam sumur, Sang Raja melihat Perdana Menterinya tersenyum gembira. Sang Raja menolongnya keluar dari sumur dan memintan maaf atas apa yang telah ia lakukan. Kemudian ia menceritakan apa yang dialaminya.

"Ah, Baginda tak perlu meminta maaf," jawab Perdana Menteri sambil tersenyum.
"Bukankah bagi hamba, adalah sebuah berkat jika hamba dilempar ke dalam sumur?"
"Bagaimana mungkin?" tanya Sang Raja terheran-heran.
"Baginda, seandainya hamba pergi bersama Baginda, maka suku liar itu akan menggunakan hamba sebagai kurban pengganti bagi Dewa Gunung!"

Mahasiswa Mapan


Sekelompok alumni yang sudah mapan dalam karir, sedang berbincang-bincang pada saat reuni dan memutuskan untuk pergi mengunjungi professor universitas mereka yang sekarang sudah pensiun.

Dalam kunjungan tersebut, pembicaraan berubah menjadi keluhan mengenai stress pada kehidupan dan pekerjaan mereka. Profesor itu menyajikan coklat panas pada tamu-tamunya. Ia pergi ke dapur dan kembali dengan coklat panas dalam teko besar dan beberapa cangkir porselen, gelas, kristal dan beberapa cangkir yang biasa-biasa saja. Ada beberapa yang mahal, ada yang cantik dan mengatakan kepada mereka untuk mengambil sendiri coklat panas tersebut.

Ketika mereka masing-masing memegang secangkir coklat panas di tangan mereka, Professor itu berkata, “Lihatlah semua cangkir yang bagus, dan mahal, semuanya telah diambil, yang tertinggal hanyalah yang biasa dan yang murah.”

“Adalah normal bagi kalian untuk menginginkan yang terbaik bagi kalian semua, itu adalah sumber dari masalah dan stress kalian. Cangkir yang kalian minum tidak menambahkan kualitas dari coklat panas tersebut.”

“Apa yang kalian inginkan sebenarnya adalah coklat panas, bukan cangkirnya; tetapi secara tidak sadar kalian menginginkan cangkir yang terbaik, kemudian kalian mulai saling melihat dan membandingkan cangkir masing-masing.”

Profesor berhenti sejenak, lalu berkata, “Sekarang pikirkan ini: Kehidupan adalah coklat panas; pekerjaan, uang dan kedudukan di masyarakat adalah cangkirnya. Itu hanyalah alat untuk memegang dan memuaskan kehidupan. Cangkir yang kau miliki tidak akan menggambarkan, atau mengubah kualitas kehidupan yang kalian miliki. Terkadang, dengan memusatkan perhatian kita pada cangkirnya, kita gagal untuk menikmati coklat panas yang telah Tuhan sediakan bagi kita. Tuhan membuat coklat panasnya, tetapi manusia memilih cangkirnya.”

“Orang-orang yang paling bahagia tidak memiliki semua yang terbaik. Mereka hanya berbuat yang terbaik dari apa yang mereka miliki.”

“Hiduplah dengan sederhana. Mengasihilah dengan murah hati. Perhatikan sesama dengan sungguh-sungguh. Bicaralah dengan ramah. Dan nikmatilah coklat panas kalian!”

1000 senyum




Tidak disangka bahwa kami mendapat kesempatan untuk mengunjungi Panti Asuhan didaerah cijantung tersebut. Kehadiran kami bertujuan untuk dapat saling berbagi dengan ade-ade kami yang ada di panti tersebut.

Kami tidak memiliki banyak uang, tetapi kami memiliki kasih dan sedikit kebutuhan sembako yang mereka dapat nikmati untuk kedepan.

pelajaran indah dari rasa syukur bahwa kami masih bisa mendapat anugrah untuk berbagi kasih.

Mario Teguuh Golden Ways




Acara yang dinantikan oleh setiap mahasiswa ini sungguh menyenangkan. Siapa yang tak mau mendapat undangan gratis dan bertemu serta mendapat pelajaran dari seorang motivator handal.

Banyak pelajaran yang dapat kami petik dari setiap acara. Berangkat pagi dari kampus, menggunakan bus TNI AL yang kami sewa. dari jam 10 pagi ampe jam 9.30 malam baru sampe kembali ke depok.

semua berjumlah 25 orang yang ikut dan ternyata tidak sia-sia kami melaju kesana.

power of rupiah


memulai dengan sukacita dengan segala harapan, berharap dapat membantu sesama dengan segala yang ada pada diri kami. mengamen dan menghimbau banyak hal yang kami hadapi dari cacian orang lain bahkan dukungan orang lain.

saat hujan maupun panas, terus maju bergerak hingga harapan dicapai. Semua dapat berjalan dengan penuh kepuasan.

"kasihilah sesamamu manusia, seperti engkau mengasihi dirimu sendiri"

ppsppt 2010


Antusiasme dan semangat baru dari setiap panitia sungguh terasa, saat hari mendekati pelaksanaan. Melihat teman-teman baru yang pertama kali akan menjadi seorang mahasiswa dan mahasiswi.

Segala persiapan telah kami siapkan untuk hari ini. Ketika teman-teman baru kami masuk, ternyata benar benar menyenangkan karena kami melihat kepolosan, keluguan dari wajah mereka semua.

Mereka adalah generasi penerus yang harus dibentuk untuk masa depan gunadarma dan bangsa ini. Namun, patut kami berterima kasih atas pelajaran yang diberikan melalui kegiatan ini yaitu tentang " kerendahan hati dan kesabaran dalam menghadapi kesesakan hidup".

Walaupun teman-teman baru, kami bentak dan kami buat suasana tegang, mereka tetap sabar tanpa menggerutu (setidaknya tidak didepan kami, hehehe).

Panti Werda 2010





Ketika akan memulai acara ini, kami memulai dengan segala kesederhanaan dan kerendahan hati. Banyak pihak yang meremehkan ini, tetapi kami tetap percaya dan teguh berjalan terus ke depan untuk menggapai tujuan tersebut.

Berbagi keceriaan, sukacita dan damai sejatera dengan nenek dan kakek dipanti werda ini merupakan keuntungan besar kami karena mendapat banyak pelajaran akan hikmat dari mereka.

Kami sadar dimasa muda ini adalah masa yang paling nyaman sekaligus rentan untuk itu kami berterima kasih kepada kakek dan nenek dari panti werda sasana cibubur buat pelajaran yang telah diberikan dengan hikmat "janganlah seorang pun menganggap engkau rendah karena engkau muda, tetapi jadilah teladan dalam sikapmu, tingkah lakumu dan kesetiaanmu."